+62 813-6069-8993

ashshiddiq@gmail.com

Hari Ini :

Kesombongan Adalah Salah Satu Penghalang Terbesar Masuknya Hidayah ke Dalam Hati Manusia.

Khoirul Anam, S.Sos

Jul. 19, 2026

وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ اَوْ تَأْتِيْنَآ اٰيَةٌۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّثْلَ قَوْلِهِمْۗ تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْۗ قَدْ بَيَّنَّا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ۝١١٨

“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, ‘Mengapa Allah tidak berbicara dengan kita atau datang tanda (kekuasaan-Nya) kepada kita?’ Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada kaum yang meyakini.” (QS. Al Baqoroh : 118 )

Intisari Ayat

وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ اَوْ تَأْتِيْنَآ اٰيَةٌۗ

Tuntutan kaum tidak beriman: Orang-orang yang tidak memiliki ilmu menuntut agar Allah berbicara langsung kepada mereka atau menunjukkan mukjizat khusus sesuai keinginan mereka.

كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّثْلَ قَوْلِهِمْۗ تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْۗ

Pola pikir yang berulang: Kaum terdahulu (umat-umat terdahulu yang membangkang) memiliki tuntutan dan pola pikir yang sama persis karena kesamaan kondisi hati mereka yang keras dan ingkar.

قَدْ بَيَّنَّا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

Bukti sudah jelas: Allah menegaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan-Nya sudah sangat jelas bagi orang-orang yang memiliki keyakinan di dalam hatinya.

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini sebagai berikut :

قَالَ رَافِعُ بْنُ حُرَيْمِلَةَ لِرَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنْ كُنْتَ رَسُولًا مِنَ اللّٰهِ كَمَا تَقُولُ، فَقُلْ لِلّٰهِ فَلْيُكَلِّمْنَا حَتَّىٰ نَسْمَعَ كَلَامَهُ. فَأَنْزَلَ اللّٰهُ فِي ذٰلِكَ مِنْ قَوْلِهِ:

“Rafi’ bin Huraimilah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Muhammad, jika kamu benar-benar seorang utusan dari Allah seperti yang kamu katakan, maka katakanlah kepada Allah agar Dia berbicara kepada kami sehingga kami bisa mendengar firman-Nya.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya mengenai hal tersebut:

(وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ)

(Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, ‘Mengapa Allah tidak berbicara dengan kita atau datang tanda kepada kita?’)”

Riwayat di atas menjelaskan Asbabun Nuzul (sebab turunnya) Surat Al-Baqarah ayat 118. Tokoh bernama Rafi’ bin Huraimilah merupakan salah satu pembangkang dari kalangan Yahudi Madinah yang menantang Rasulullah ﷺ dengan tuntutan yang mustahil dan mencerminkan kesombongan. Keinginan untuk mendengar suara Allah secara langsung merupakan bentuk kesombongan yang meniru pembangkangan umat-umat terdahulu (seperti kaum Nabi Musa). Kesombongan adalah salah satu penghalang terbesar masuknya hidayah ke dalam hati manusia.

Mengapa Sombong Menghalangi Hidayah?

Sombong (kibr) secara definisi adalah menolak kebenaran (batharul haqq) dan meremehkan manusia (ghamthun naas). Kesombongan membuat seseorang merasa sudah cukup dan tidak butuh petunjuk, sehingga hatinya tertutup dari nasihat. Allah secara tegas menyatakan akan memalingkan orang-orang yang sombong dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Hal ini digambarkan langsung oleh Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 146 :

سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ وَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۚ وَاِنْ يَّرَوْا سَبِيْلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوْهُ سَبِيْلًاۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا عَنْهَا غٰفِلِيْنَ

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku). Jika mereka melihat semua tanda-tanda itu, mereka tetap tidak mau beriman padanya. Jika mereka melihat jalan kebenaran, mereka tetap tidak mau menempuhnya. (Sebaliknya,) jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.

Seperti halnya Rafi’ bin Huraimilah dalam riwayat sebelumnya, orang yang sombong tidak tulus dalam mencari kebenaran, melainkan mencari-cari alasan dan mengajukan syarat yang mustahil hanya untuk menolak petunjuk yang sudah jelas di depan mata mereka. Ia berkata yang kemudian perkataannya di abadikan di dalam Al- Qur’an :

لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ  ؟

“(Mengapa Allah tidak berbicara dengan kita)”

Dan Al-Qurthubi menukil (mengenai ayat):

( لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ )

“(Mengapa Allah tidak berbicara dengan kita)”

yaitu: Seandainya Allah berbicara langsung kepada kami untuk menegaskan kenabianmu, wahai Muhammad.

Aku (Ibnu Katsir) berkata: Namun makna lahiriah dari konteks ayat tersebut lebih luas (umum), dan Allah lebih mengetahui.

Tafsir Al-Qurthubi: Menilai bahwa tuntutan kaum kafir tersebut sangat spesifik, yaitu mereka ingin Allah berbicara langsung kepada mereka hanya untuk mengonfirmasikan bahwa Nabi Muhammad adalah benar-benar seorang nabi.

Koreksi Ibnu Katsir: Menurut Ibnu Katsir, kalimat “Mengapa Allah tidak berbicara dengan kita” maknanya lebih luas dari itu. Mereka tidak sekadar meminta konfirmasi kenabian, melainkan menuntut agar Allah berbicara langsung kepada mereka tentang hal apa saja secara umum, sebagai bentuk kesombongan dan penentangan.

Dan Abu Al-Aliyah, Ar-Rabi’ bin Anas, Qatadah, dan As-Suddi berkata dalam tafsir ayat ini: ‘Ini (Mengapa Allah tidak berbicara dengan kita…) adalah perkataan orang-orang kafir Arab.

 (كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ(.

(Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu), mereka (para ulama tabiin) berkata: Mereka yang sebelum mereka adalah kaum Yahudi dan Nasrani.’

Dan yang menguatkan pendapat ini—yaitu bahwa orang-orang yang mengatakan demikian adalah kaum musyrik Arab—adalah firman Allah Ta’ala:

( وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللّٰهِ ۘ اللّٰهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللّٰهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ ) [ الْأَنْعَامُ : ١٢٤ ] .

(Dan apabila datang suatu ayat [tanda kekuasaan Allah] kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami tidak akan beriman sebelum diberikan kepada kami seperti apa yang diberikan kepada rasul-rasul Allah.’ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya. Orang-orang yang berdosa itu, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan azab yang keras karena tipu daya yang mereka lakukan.) [QS. Al-An’am: 124] ]”

Dalam kutipan ini, Ibnu Katsir menggunakan metode Tafsir Al-Qur’an bil Qur’an (menafsirkan satu ayat dengan ayat Al-Qur’an lainnya). Beliau menguatkan pendapat para Tabi’in (bahwa yang meminta Allah berbicara langsung di surat Al-Baqarah ayat 118 adalah musyrik Arab) dengan dalil Surat Al-An’am ayat 124. Di ayat tersebut, kaum musyrik Arab secara terang-terangan menuntut agar mereka diberikan wahyu secara langsung sama seperti para rasul sebelum mereka mau beriman.

Allah mengatakan :

[CA1] 

اللّٰهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

“Allah lebih mengetahui di mana (kepada siapa) Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya.” (QS. Al-An’am: 124).

Ini adalah Bantahan Terhadap Kesombongan Kaum Musyrik.  Kaum musyrik Arab (seperti Walid bin Mughirah atau Abu Jahal) merasa bahwa merekalah yang lebih berhak menerima wahyu karena memiliki kekayaan, kedudukan, dan pengaruh sosial yang tinggi. Mereka meremehkan Nabi Muhammad ﷺ yang yatim dan tidak sekaya mereka. Ayat ini memotong kesombongan mereka dengan menegaskan bahwa materi dan kasta sosial bukanlah ukuran kelayakan di hadapan Allah.

Kerasulan adalah Hak Mutlak dan Pilihan Allah. Tugas kerasulan dan kenabian bukanlah sesuatu yang bisa diusahakan dengan ibadah, pangkat, atau kekayaan, melainkan murni pilihan tunggal (isthifa’) dari Allah. Allah memilih para nabi berdasarkan ilmu-Nya yang maha luas, bukan berdasarkan standar atau tuntutan manusia.

Allah Maha Mengetahui luar dan dalam setiap makhluk-Nya. Dia memilih Nabi Muhammad ﷺ karena Dia tahu bahwa jiwa, hati, dan akal Nabi Muhammad adalah yang paling suci, paling jujur, dan paling siap untuk memikul beban wahyu serta menyampaikan risalah Islam kepada seluruh alam.

Kalimat ini merupakan sindiran keras bagi orang-orang kafir yang mencoba “mengatur” Allah tentang siapa yang pantas menjadi utusan-Nya. Hal ini serupa dengan kalimat ketidakpuasan mereka di ayat lain:

وَقَالُوْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰنُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ ۝٣

“Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri ini (Makkah dan Thaif)?” (QS. Az-Zukhruf: 31).

Semua  ini menegaskan bahwa tuntutan orang-orang sombong agar Allah berbicara langsung kepada mereka atau memberi mereka wahyu seperti para nabi adalah tuntutan yang tidak berdasar. Allah Maha Tahu siapa yang layak mengemban amanah besar tersebut, dan pilihan-Nya tidak bisa diintervensi oleh kesombongan manusia. Dan firman Allah Ta’ala:

( وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا ۝ أَوْ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَعِنَبٍ فَتُفَجِّرَ الْأَنْهَارَ خِلَالَهَا تَفْجِيرًا ۝ أَوْ تُسْقِطَ السَّمَاءَ كَمَا زَعَمْتَ عَلَيْنَا كِسَفًا أَوْ تَأْتِيَ بِاللّٰهِ وَالْمَلَائِكَةِ قَبِيلًا ۝ أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَىٰ فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّىٰ تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ ۗ قُلْ سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا ) [ الْإِسْرَاءُ : ٩٠ – ٩٣ ]

(Dan mereka berkata, “Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan sungai-sungai di celah-celahnya dengan aliran yang deras, atau engkau jatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana engkau katakan, atau (sebelum) engkau datangkan Allah dan para malaikat berhadapan muka dengan kami, atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab untuk kami baca.” Katakanlah (Muhammad), “Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”) [QS. Al-Isra’: 90–93]

Sama seperti pembahasan di Surat Al-Baqarah ayat 118, kaum musyrik tidak berniat mencari kebenaran. Mereka mengajukan syarat-syarat yang tidak masuk akal (meminta kebun instan, menjatuhkan langit hancur berkeping-keping, hingga melihat Allah dan malaikat secara langsung) hanya sebagai tameng untuk menolak hidayah. Jawaban penutup ayat ini menegaskan bahwa tugas seorang Rasul hanyalah menyampaikan wahyu, bukan menuruti ego dan kesombongan manusia.

Jika kita mengaitkan rangkaian ayat Surat Al-Isra’ ayat 90–93 tadi dengan zaman modern sekarang, kita akan menemukan bahwa pola pikir kaum musyrik Quraisy dahulu ternyata masih hidup dan termanifestasi dalam bentuk yang baru.

Berikut adalah korelasi mendalam ayat tersebut dengan realitas kehidupan modern saat ini:

  1. Munculnya “Scientism” (Menjadikan Sains/Materi sebagai Satu-satunya Tuhan).

Dalam ayat tersebut, kaum kafir menuntut bukti material yang kasat mata (mata air memancar, rumah emas, langit jatuh) baru mereka mau beriman. Di era sekarang, banyak orang menganut paham scientism atau positivisme ekstrem. Mereka menolak hal gaib (Allah, malaikat, hari akhir) karena tidak bisa diuji di laboratorium atau dilihat dengan mata kepala. Mereka berkata, “Saya baru percaya Tuhan kalau ada bukti empiris/fisik di depan mata.” Ini persis seperti tuntutan kaum Quraisy yang menuntut pembuktian material untuk hal yang sifatnya keimanan.

  • Tuntutan “Mukjizat Instan” pada Teknologi dan Pemimpin

Kaum Quraisy meminta Nabi mengubah tanah gersang Makkah menjadi kebun subur yang mengalir sungai secara instan.

Manusia modern memiliki sindrom serba instan (instant gratification) akibat kemajuan teknologi. Pola pikir ini sering kali dibawa dalam urusan agama atau kehidupan. Banyak orang menuntut hasil spiritual yang instan tanpa mau berproses (beribadah, bersabar, menuntut ilmu). Mereka juga sering mendewakan teknologi seolah teknologi adalah “tuhan” baru yang bisa menyelesaikan seluruh masalah moral dan batin manusia.

3. Mengukur Kebenaran dari Standard Kekayaan (Materialisme)

Mereka menuntut Nabi memiliki “rumah dari emas (zukhruf)” agar layak didengar.

Di era media sosial saat ini, terjadi fenomena flexing (pamer kekayaan). Banyak manusia modern yang hanya mau mendengar nasihat atau menganggap seseorang sukses/hebat jika orang tersebut kaya raya, punya mobil mewah, atau rumah megah. Kebenaran tidak lagi dilihat dari isinya, melainkan dari status sosial pembawa pesannya. Jika yang berbicara orang miskin, kata-katanya diabaikan—persis seperti cara pandang Quraisy terhadap Nabi Muhammad ﷺ yang hidup sederhana.

4. Menolak Otoritas Agama karena Ego Manusia

Di akhir ayat, Allah menyuruh Nabi menjawab: “Mahasuci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”

Kaitannya dengan manusia di zaman modern, banyak orang modern menolak syariat atau ajaran agama dengan alasan kesetaraan, kebebasan individu (liberalisme), atau merasa akalnya sudah terlalu pintar untuk diatur oleh wahyu.

Mereka menggugat, “Mengapa kita harus tunduk pada aturan yang dibawa oleh seorang manusia (Nabi) dari abad ke-7?” Mereka lupa bahwa Nabi hanyalah utusan yang menyampaikan wahyu dari Pencipta Alam Semesta, bukan membuat aturan dari egonya sendiri.

Sifat dasar manusia tidak pernah berubah, yang berubah hanya fasilitasnya. Tuntutan kaum musyrik dulu didorong oleh kesombongan intelektual dan material. Di zaman modern, jika kita tidak berhati-hati, kemajuan sains, teknologi, dan harta bisa membuat kita mengulangi kesalahan yang sama: menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu tidak sesuai dengan logika materialistik atau ego kita.

Allah berfirman :

( وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا ) [ الْفُرْقَانُ : ٢١ ]

(Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, “Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita atau kita (dapat) melihat Tuhan kita?” Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka dan mereka telah melampaui batas dengan melampaui batas yang sebesar-besarnya.) [QS. Al-Furqan: 21] ]”

Ayat ini merupakan puncak dari penjelasan mengapa orang-orang kafir mengajukan tuntutan yang mustahil (seperti meminta melihat Allah langsung). Allah membongkar isi hati mereka dengan kalimat:

لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ

(Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka).”

Banyak orang modern yang merasa dirinya sangat pintar (karena menguasai sains/teknologi) hingga merasa setara dengan pencipta, atau menolak tunduk pada aturan agama kecuali jika Tuhan menampakkan diri-Nya.

Akar Masalahnya Bukan Bukti, Tetapi Hati. Ayat ini menegaskan bahwa penolakan manusia terhadap kebenaran sejati bukanlah karena kurangnya bukti ilmiah atau tanda kekuasaan Allah, melainkan karena adanya sifat sombong (istikbar) dan bebal/melampaui batas (‘utuwwan kabira) di dalam dada mereka.

( بَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَىٰ صُحُفًا مُنَشَّرَةً ) [ الْمُدَّثِّرُ : ٥٢ ] .

(Bahkan setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran (wahyu) yang terbuka.) [QS. Al-Muddassir: 52] ]”

Ayat ini membongkar puncak kesombongan dan keegoisan tokoh-tokoh kafir Quraisy (seperti Abu Jahal). Mereka menuntut agar Allah tidak hanya menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad ﷺ, melainkan mengirimkan surat atau kitab khusus dari langit yang tertulis nama masing-masing dari mereka secara personal (misal: “Dari Allah untuk Abu Jahal, ikutilah Muhammad”). Tuntutan egois ini timbul karena mereka gengsi dan sombong untuk tunduk pada risalah yang dibawa oleh orang lain.

إِلَىٰ غَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْآيَاتِ الدَّالَّةِ عَلَىٰ كُفْرِ مُشْرِكِي الْعَرَبِ وَعُتُوِّهِمْ وَعِنَادِهِمْ وَسُؤَالِهِمْ مَا لَا حَاجَةَ لَهُمْ بِهِ ، إِنَّمَا هُوَ الْكُفْرُ وَالْمُعَانَدَةُ ، كَمَا قَالَ مَنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْأُمَمِ الْخَالِيَةِ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابَيْنِ وَغَيْرِهِمْ  .

Dan (masih banyak lagi) ayat-ayat lainnya yang menunjukkan atas kekafiran kaum musyrik Arab, kebebalan mereka, keras kepala mereka, serta permintaan mereka akan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka butuhkan. Hal itu tidak lain hanyalah bentuk kekafiran dan penentangan semata, sebagaimana yang telah diucapkan oleh orang-orang sebelum mereka dari umat-umat masa lalu, baik dari kalangan Ahli Dua Kitab (Yahudi dan Nasrani) maupun selain mereka.

Segala permintaan mukjizat aneh dari orang-orang kafir (seperti bisa melihat Allah, meminta kitab pribadi turun dari langit, atau mengubah bumi menjadi emas) bukanlah karena mereka butuh bukti ilmiah untuk beriman. Tuntutan itu murni lahir dari kekafiran (kufr), kebebalan (‘utuww), dan sikap keras kepala (‘inaad) untuk menolak kebenaran. Karakteristik buruk ini bukan hanya milik musyrik Arab, melainkan warisan mentalitas dari umat-umat terdahulu (Yahudi, Nasrani, dan kaum pembangkang lainnya) yang memiliki kesamaan kondisi hati (Tasyabahats qulubuhum).

Sebagaimana firman Allah :

( يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَنْ تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاءِ ۚ فَقَدْ سَأَلُوا مُوسَىٰ أَكْبَرَ مِنْ ذٰلِكَ فَقَالُوا أَرِنَا اللّٰهَ جَهْرَةً ) [ النِّسَاءِ : ١٥٣ ]

“(Ahli Kitab (Yahudi) meminta kepadamu (Muhammad) agar engkau menurunkan sebuah kitab dari langit kepada mereka. Sungguh, mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, “Perlihatkanlah Allah kepada kami secara nyata.”) [QS. An-Nisa’: 153]

Allah mengingatkan Nabi Muhammad ﷺ bahwa karakter keras kepala mereka bukanlah hal baru, tetapi merupakan warisan mentalitas yang sudah sejak lama ada. Nenek moyang mereka di zaman Nabi Musa justru meminta hal yang jauh lebih lancang dan mustahil, yaitu menuntut melihat Allah secara langsung dengan mata kepala sendiri (jahratan) sebagai syarat untuk beriman.

Kajian mengenai Surat Al-Baqarah ayat 118 dan rangkaian dalil penguat dari Ibnu Katsir ini memperlihatkan secara utuh bagaimana kesombongan dan keras kepala adalah penyakit hati lintas zaman yang paling efektif menutup pintu hidayah.

( وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللّٰهَ جَهْرَةً ) [ الْبَقَرَةُ : ٥٥ ]

(Dan ingatlah ketika kamu sekalian berkata, “Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata.”) [QS. Al-Baqarah: 55]

Ayat ini merupakan bukti autentik dari Surat Al-Baqarah ayat 118 yang berbunyi تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْ  (hati mereka serupa). Ternyata, mentalitas tersebut persis seperti nenek moyang kaum Yahudi terdahulu yang juga mengancam Nabi Musa dengan kalimat, “Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata”.

( كَذٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ ۝ أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ ) [ الذَّارِيَاتُ : ٥٢ – ٥٣ ] .

(Demikianlah, tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka selalu mengatakan, “Dia itu adalah seorang penyihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berwasiat tentang ucapan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.) [QS. Adz-Dzariyat: 52–53]

Sejak zaman Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad ﷺ, setiap kali ada rasul yang membawa kebenaran, kaum yang sombong selalu melemparkan tuduhan yang sama persis: kalau bukan dituduh penyihir (saahir), pasti dituduh orang gila (majnuun).

“Apakah mereka saling berwasiat?” Artinya, apakah kaum musyrik abad ke-7 sempat bertemu dengan kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, atau kaum Tsamud untuk janjian memakai kata-kata ejekan yang sama? Tentu saja tidak, karena jarak waktu mereka terpisah ratusan hingga ribuan tahun.

Mengapa ucapan dan tuntutan mereka bisa sama persis meski tidak pernah saling bertemu? Jawabannya ada di akhir ayat:

 بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

(Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas).”

Karena penyakit hati mereka sama (yaitu kesombongan, kebebalan, dan melampaui batas), maka secara otomatis produk ucapan, argumen, dan alasan mereka untuk menolak hidayah pun menjadi persis sama.

 ( قَدْ بَيَّنَّا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ )

(Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda [kekuasaan Kami] kepada kaum yang meyakini)

Maksudnya: Kami telah menerangkan dengan sangat jelas dalil-dalil atas kebenaran para rasul, dengan keterangan yang membuat seseorang tidak lagi membutuhkan pertanyaan (tuntutan) lain atau tambahan (mukjizat) lainnya; (yaitu) bagi orang yang mau meyakini, membenarkan, mengikuti para rasul, serta memahami apa yang mereka bawa dari Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Orang-orang yang hatinya keras akan selalu merasa mukjizat Allah kurang, sehingga mereka terus menuntut bukti fisik baru (seperti meminta melihat Allah atau meminta kitab pribadi turun dari langit). Tuntutan ini tidak akan pernah ada habisnya karena masalahnya bukan pada kurangnya bukti, melainkan pada penolakan hati mereka.

Orang-orang yang memiliki sifat Yakin (Yuuqinuun), bagi mereka, tanda-tanda alam, mukjizat Al-Qur’an, dan keluhuran akhlak Nabi sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kebenaran Islam. Mereka tidak sibuk mengajukan syarat atau tuntutan aneh, melainkan fokus untuk memahami, mengimani, dan menaati ajaran tersebut.

Adapun orang yang Allah telah mengunci mati hatinya dan menjadikan penutup pada penglihatannya, maka mereka itulah orang-orang yang Allah Ta’ala firmankan tentang mereka:

( إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ ۝ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ ) [ يُونُسُ : ٩٦ – ٩٧ ] .

(Sesungguhnya orang-orang yang telah dipastikan ketentuan Tuhanmu atas mereka, tidak akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam tanda (mukjizat), hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.) [QS. Yunus: 96–97]

Ibnu Katsir memberikan penutup yang sangat berharga untuk memahami mengapa ada manusia yang sama sekali tidak tersentuh oleh hidayah:

Ketika seseorang terus-menerus menolak kebenaran karena sombong (seperti kaum musyrik Arab dan Ahli Kitab yang dibahas sebelumnya), Allah memberikan hukuman berupa Khatam (dikunci mati hatinya) dan Ghisyah (ditutup penglihatannya) dari kebenaran.

Bagi orang yang sudah sampai pada tahapan ini, argumen sejelas apa pun, mukjizat sebesar apa pun, atau bukti ilmiah secanggih apa pun tidak akan pernah bisa membuat mereka beriman.

Mereka baru akan memercayai keberadaan Allah dan kebenaran hari akhir ketika azab yang pedih (Al-‘Adzabul Aliim) sudah berada di depan mata mereka. Namun pada saat itu, keimanan mereka sudah tidak lagi diterima dan pintu taubat telah tertutup (seperti kisah Fir’aun yang baru mengaku beriman saat tenggelam di Laut Merah).

Dengan kutipan dari Surat Yunus ini, tuntas sudah penjelasan Ibnu Katsir mengenai anatomi hati manusia dalam merespons petunjuk Allah pada Surat Al-Baqarah ayat 118.

Agar hati kita dijauhkan dari sifat khatam (dikunci mati) dan selalu terbuka menerima hidayah serta kebenaran, para ulama menganjurkan untuk merutinkan doa-doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ sangat sering membaca doa ini karena hati manusia sangat dinamis dan berada di bawah kuasa Allah.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَىٰ دِينِكَ

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

اللّٰهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَىٰ طَاعَتِكَ

Artinya: “Ya Allah, Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.” (HR. Muslim)

Doa ini diajarkan oleh Rasulullah ﷺ agar hati kita selalu diarahkan untuk taat dan tidak condong pada kemaksiatan atau kesombongan yang memicu terkuncinya hati.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imran: 8)

اللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas (serakah), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim)

Selain membaca doa-doa di atas, para ulama menjelaskan bahwa agar hati tidak dikunci mati, kita harus:

Segera beristighfar setelah berbuat dosa: Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa dosa membuat bintik hitam di hati. Jika dibiarkan tanpa istighfar, bintik itu akan melebar dan menutup hati (raan), yang menjadi cikal bakal khatam (dikunci mati).

Menjaga kerendahan hati (tawadhu): Karena musuh utama hidayah adalah kesombongan, maka selalu posisikan diri kita sebagai fakir ilmu yang butuh bimbingan Allah.

—————–


 [CA1]

Artikel Terkait

Tinggalkan komentar