Pendahuluan
Tafsir Taisir al-Karim ar-Raḥman fi Tafsir Kalam al-Mannan karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di termasuk salah satu kitab tafsir yang paling banyak direkomendasikan oleh para ulama kontemporer. Salah satu ulama yang memberikan apresiasi tinggi terhadap kitab ini adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah melalui muqaddimah ( Kata Pengantar ) yang beliau tulis dalam tafsir tersebut.
Muqaddimah tersebut bukan sekadar kata pengantar, tetapi merupakan sebuah penilaian ilmiah terhadap metode penafsiran (manhaj) yang ditempuh oleh Syaikh As-Sa’di. Melalui beberapa kalimat yang ringkas, Syaikh al-‘Utsaimin menjelaskan keunggulan-keunggulan pokok kitab ini sehingga layak untuk dijadikan rujukan oleh para penuntut ilmu.
Tulisan ini bertujuan mengkaji penilaian tersebut serta menjelaskan maknanya agar mudah dipahami oleh para pembaca bahasa Indonesia.
Penilaian Syaikh al-‘Utsaimin terhadap Tafsir As-Sa’di
1. Kemudahan bahasa dan kejelasan penjelasan ( Suhulatul Ibaroh Wa Wudhuhuha)
Syaikh al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa salah satu kelebihan Tafsir As-Sa’di ialah penggunaan bahasanya yang sederhana, mudah dipahami, dan memiliki penjelasan yang terang dan gamblang.
Beliau menyebutkan bahwa tafsir ini dapat dipahami , baik oleh kalangan ulama yang mendalam ilmunya maupun oleh para penuntut ilmu yang masih berada pada tingkatan di bawahnya.
Analisis
Ini menunjukkan bahwa Syaikh As-Sa’di memiliki kemampuan menyampaikan ilmu yang tinggi tanpa menggunakan bahasa yang rumit. Kesederhanaan bahasa bukanlah tanda dangkalnya ilmu, tetapi merupakan tanda kematangan seorang guru dalam menyampaikan ilmu kepada berbagai lapisan masyarakat.
2. Menghindari pembahasan yang bertele-tele ( Tajannubul Hasywi Wal Itholah )
Syaikh al-‘Utsaimin memuji bahwa Tafsir As-Sa’di menghindari pembahasan yang panjang dan tidak bermanfaat (تجنب الحشو والإطالة).
Beliau juga menghindari penakwilan yang tidak memberikan manfaat kepada pembaca selain membuang waktu dan membingungkan pikiran.
Analisis
Metode ini menunjukkan bahwa tujuan utama tafsir adalah membimbing manusia untuk bisa memahami Al-Qur’an dengan mudah, bukan memenuhi kitab dengan perdebatan yang tidak membawa faedah serta tidak menghasilkan pengamalan.
3. Menghindari penyebutan khilaf yang tidak diperlukan ( Tajannubu Dzikril Khilaf )
Beliau menjelaskan bahwa Syaikh As-Sa’di tidak banyak menyebutkan perbedaan pendapat para ulama, kecuali apabila perbedaan tersebut memang kuat dan diperlukan penjelasan untuk memahami ayat yang dibicarakan.
Analisis
Cara ini tentu saja sangat membantu pembaca agar fokus kepada makna ayat tanpa dibingungkan oleh banyaknya silang pendapat. Namun apabila terdapat perbedaan yang berpengaruh terhadap pemahaman ayat, maka Syaikh As-Sa’di tetap menyebutkannya disertai penjelasan yang lebih kuat berdasarkan dalil.
4. Mengikuti manhaj Salaf dalam ayat-ayat sifat ( Assair ‘Ala Manhajissalaf )
Syaikh al-‘Utsaimin menyatakan bahwa Tafsir As-Sa’di berjalan di atas manhaj Salaf dalam memahami ayat-ayat yang membicarakan tentang sifat-sifat Allah.
Beliau tidak melakukan tahrif ( penyimpangan ) terhadap makna ayat dan tidak pula melakukan takwil ( penjelasan makna ) yang bertentangan dengan maksud Allah dalam firman-Nya.
Analisis
Pujian ini menunjukkan bahwa aspek akidah merupakan salah satu kekuatan utama Tafsir As-Sa’di. Oleh sebab itu kitab ini banyak dijadikan rujukan dalam pembelajaran akidah Ahlus Sunnah.
5. Ketelitian dalam melakukan istinbath ( Diqqul Istimbath )
Menurut Syaikh al-‘Utsaimin, Syaikh As-Sa’di memiliki ketelitian yang luar biasa dalam menggali faedah, hukum, dan hikmah dari ayat-ayat Al-Qur’an.
Sebagai contoh, beliau mampu mengeluarkan sekitar lima puluh hukum dari ayat wudhu dalam Surah Al-Ma’idah. Demikian pula dari kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman dalam Surah Shad beliau menggali banyak pelajaran yang sangat berharga.
Analisis
Ini menunjukkan bahwa fungsi tafsir bukan hanya menerjemahkan ayat, tetapi juga menggali kandungan ilmu yang terdapat di dalamnya sehingga Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk kehidupan.
6. Tafsir yang mendidik akhlak ( Kitabu Tafsir wa Tarbiyyah )
Syaikh al-‘Utsaimin juga menegaskan bahwa Tafsir As-Sa’di bukan hanya kitab tafsir, tetapi juga kitab tarbiyah.
Hal ini tampak ketika Syaikh As-Sa’di menafsirkan firman Allah:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang untuk mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. [Araf: 199]
Beliau tidak hanya menjelaskan arti ayat, tetapi juga membimbing pembaca agar memiliki akhlak pemaaf, gemar mengajak kepada kebaikan, dan menjauhi sikap membalas kebodohan dengan kebodohan.
Analisis
Inilah salah satu ciri khas Tafsir As-Sa’di. Setiap penjelasan ayat hampir selalu dihubungkan dengan pendidikan jiwa, pembinaan akhlak, dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.
7. Rekomendasi untuk memiliki kitab ini ( Taushiyah Bi Iqtina’i Hadza At Tafsir )
Pada akhir muqaddimah, Syaikh al-‘Utsaimin menganjurkan agar setiap penuntut ilmu yang mengoleksi kitab-kitab tafsir tidak membiarkan perpustakaannya kosong dari Tafsir As-Sa’di.
Analisis
Rekomendasi ini merupakan bentuk penghargaan yang sangat tinggi. Jarang sekali seorang ulama memberikan anjuran sekuat ini terhadap sebuah kitab kecuali karena beliau benar-benar mengenal kualitasnya.
Kesimpulan
Berdasarkan muqaddimah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, dapat disimpulkan bahwa Tafsir As-Sa’di memiliki sejumlah keunggulan yang menonjol, yaitu:
- Bahasa yang mudah dipahami.
- Penjelasan yang jelas dan sistematis.
- Menghindari pembahasan yang bertele-tele.
- Menghindari khilaf yang tidak diperlukan.
- Berpegang pada manhaj Salaf dalam masalah akidah.
- Kaya dengan istinbath hukum, faedah, dan hikmah.
- Sarat dengan nilai-nilai tarbiyah dan pembinaan akhlak.
- Layak untuk dimiliki oleh setiap penuntut ilmu.
Dengan demikian, penilaian Syaikh al-‘Utsaimin menunjukkan bahwa Tafsir As-Sa’di bukan hanya kitab tafsir yang menjelaskan makna ayat, tetapi juga kitab yang membina akidah, akhlak, dan cara berpikir seorang Muslim berdasarkan panduan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.
Tentang Penulis : Khoirul Anam S.Sos.I, Dosen di STIQ Ash-Shiddiq Medan, Pengisi Kajian Al-Qur’an Dan Tafsir di Hidayatullah Medan Al-Qur’an Learning Centre






